Jumat, 15 April 2011

SILOGISME KATEGORIAL

SILOGISME KATEGORIAL A. SILOGISME SEBAGAI BENTUK HASIL PENALARAN DEDUKTIF Silogisme merupakan suatu proses penarikan kesimpulan yang didasarkan atas pernyataan – pernyataan ( proposisi yang kemudian disebut premis ) sebagai antesedens ( pengetahuan yang sudah dipahami ) hingga akhirnya membentuk suatu kesimpulan ( keputusan baru ) sebagai konklusi atau konsekuensi logis. Keputusan baru tersebut selalu berkaitan dengan proposisi yang digunakan sebagai dasar atau dikemukakan sebelumnya. Oleh karena hal tersebut peru dipahami hal – hal teknis berkaitan dengan silogisme sehingga penalaran kita benar dan dapat diterima nalar. Sehubungan dengan hal tersebut perlu diperhatikan konsep – konsep berikut ini : 1) Pernyataan pertama dalam silogisme disebut premis mayor, sedangkan pernyataan kedua disebut premis minor 2) Dalam silogisme hanya terdapat 3 term ( batasan ) yaitu: a. Term I adalah Predikat dalam premis mayor ( B ) b. Term II adalah Predikat dalam premis minor ( C ) c. Term III adalah Term yang menghubungkan anatara premis mayor dan premis minor ( A ) 3) Dalam sebuah silogisme hanya ada 3 proposisi, yaitu : premis mayor, premis minor, dan kesimpulan 4) Bila kedua premis negative, tidak akan ditarik kesimpulan 5) Bila salah satu premisnya negative, tidak dapat ditarik kesimpulan yang sahih 6) Bila salah satu premis particular, kesimpulan tidak sahih 7) Kedua premis tidak boleh particular 8) Rumus PM ( premis mayor ) : A = B Pm ( premis minor ) : C = A Kesimpulan : C = B B. MACAM – MACAM SILOGISME Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subyek dalam kesimpulan disebut premis minor. Semua mamalia binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya. Kerbau termasuk mamalia. Jadi, kerbau : binatang yang melahirkan dan menyusui anaknya. Yang perlu dicermati adalah bahwa pola penalaran tersebut dalam kehidupan sehari – hari kita tidak demikian Nampak, entah di realita pembicaraan sehari – hari, lewat surat kabar, majalah, radio, televise, dan lain – lain. Oleh sebab itu dalam menyimak atau mendengarkan atau menerima pendapat seseorang kita perlu berpikir kritis melihat dasar – dasar pemikiran yang digunakan sehingga kita dapat menilai seberapa tingkat kualitas kesahihan pendapat itu. Dalam hal seperti ini kita perlu menentukan : 1) Kesimpulan apa yang akan disampaikan 2) Mencari dasar – dasar atau alas an yang dikemukakan sebagai premis – premisnya 3) Menyusun ulang silogisme yang digunakannya , kemudian melihat kesahihannya berdasarkan ketentuan hukum silogisme Berdasarkan hal tersebut tentu saja kita akan mampu melihat setiap argument, pendapat, alasana atau gagasan yang kit abaca atau dengar. Dengan demikian, secara kritis kita mengembangkan sikap berpikir kea rah yang cerdik, pintar, arif dan tidak menerima begitu saja kebenaran / opini yang dikemukakan pihak lain. Berdasarkan hal inilah akhirnya kita mampu menerima, meluruskan, menyanggah atau menolak suatu pendapat yang kita terima. C. SILOGISME TERSUSUN Dalam praktk kehidupan sehari – hari bentuk dilogisme di atas ( kategorial ) sering tidak diikuti sebagaimana mestinya, melainkan diambil jalan pintas demi lancar dan cepatnya komunikasi antar pihak. Berikut ini bentuk bentuk ynag dimaksud yang sebenarnya merupakan perluasan atau penyingkatan silogisme kategorial, yaitu : 1) Epikherema Epikherema merupakan jabaran dari silogisme kategorial yang diperluas dengan jalan memperluas salah satu premisnya atau keduanya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan menambahkan keterangan sebab, penjelasan sebab terjadinya, keterangan waktu, maupun pembuktian keberadaannya. Perhatikan contoh berikut ; “Semua pahlawan bersifat mulia sebab mereka selalu memperjuangkan hak milik bersama dengan menomorduakan kepentingan pribadinya. Sultan mahmus Badaruddin adalah pahlawan. Jadi, sultan Mahmud Badaruddin itu mulia .” “Semua orang nasionalis adalah pejuang sebab mereka senantiasa bekerja tanpa kehendak serta tidak menghalalkan segala cara. Didalam setiap kegiatan dan keterlibatan mereka yakini bawa Tuhan juga terlibat. Itulah sebabnya mereka menjunjug tinggi nilai – nilai kemanusiaan, keadilan , kebersamaan, dan keberbedaan. Bung Tomo adalah seorang nasionalis. Maka, ia seorang pejuang sejati. Dari kedua contoh tersebut terlihat bahwa ada bagian ( premis ) tertentu yang diperluas dengan menambahkan keterangan alasan, bukti dan penjelasan sebagai pelengkap premis mayor. Pola silogistisnya tetap, hanya saja jumlah keterangan atau atribut yang memperkuat tak terbatas, asalkan memperkuat, mempertegas dan memperkelas premisnya. 2) Entimem Entimem merupakan bentuk singkat silogisme dengan jalan mengubah format yang disederhanakan tanpa menampilkan premis mayor. Bentuk silogisme ini bisa dimunculkan dalam 2 cara, yaitu : a. C = B karena C = A b. Karena C = A, berarti C = B Bentuk penalaran ini bisa dikembangkan dalam format yang lebih detail bagian per bagian yang akan memperbanyak gagasan dan konsep. Hubungan logis memegang peran utama dalam penalaran tipe ini. Pada umumnya, entimem dimulai dari kesimpulan, hanya saja ada alternative mengemukakan sebab untuk sampai kepada kesimpulan. Contoh : a. Imey memeng siswa yang amat baik masa depannya sebab ia bersekolah di SMA Bina Kerangka b. Orang itu pasti jagoan. Bukankah ia berasal dari Hollywood? c. Teman sebangku itu amat pintar. Ia memeang dilahirkan dalam shio macan Bila kita cermati, ketiga contoh tersebut dapat dilacak rangkaian silogismenya. Setelah mengembalikan rangkaian silogismenya, kita lihat validitas – validitas premis terutama premis mayor sebagai dasar bernalar serta akurasi premis minornya untuk menarik kesimpulan. 3) Sorites Silogisme tipe ini snagat cocok untuk bentuk – bentuk tulisan atau pembicaraan yang bernuansa persuasive. Silogisme tipe ini didukung oleh lebih dari 3 premis bergantung pada topic yang dikemukakan serta arah pembahasan yang dihubung – hubungkan demikianrupa sehingga predikat premis pertama menjadi subyek premis kedua, predikat premis kedua menjadi subyek pada premis ketiga, predikat premis ketiga menjadi subyek pada premis keempat dan seterusnya. Hingga akhirnya sampailah pada kesimpulan yang diambil dari subyek premis pertama dan predikat premis terakhir. Pola yang digunakan sebagai berikt : S1……………………………………….. P1 S2……………………………………….. P2 S3……………………………………….. P3, dst Kesimpulan : S1………………………. P3 D. ASAS PENALARAN DALAM KARANGAN Aspek penalaran dalam karangan, yaitu: 1) Menulis sebagai hasil proses bernalar Menulis sebagai suatu keterampilan berbahsa merupakan hasil proses berpikir kita tentang sesuatu. Hal ini dapat kita mengerti tatkala kita akan mengemukakan pendapat kepada orang lain, misalnya saat berbicara dengan orang lain, pikiran kita berkonsenterasi, berproses kemudian menggunakan media bahasa lisan untuk mengemukakan gagasan. Hal ini pun juga terjadi tatkala kita menulis suatu topic. Untuk menulis suatu topic kita harus berpikir, menhubung – hubungkan berbagai fakta, membandingkan, mempertentangkan, mencari faktor penyebab dan akibatnya dan lain – lain. Dalam keseharian hidup kita pun saat dalam kondisi sadar dan terjaga kita senantiasa berpikir. Berfikir memang merupakan kegiatan mental kehidupan manusia. Saat itu pulalah timbul serangkaian fakta hasil pengalaman, pengamatan, percobaan, penelitian, dan referensi dlam urutan yang saling berhubungan serta bertujuan menarik kesimpulan yang terwujud dalam pendapat. Jenis berfikir seperti ini sudah merupakan kegiatan bernalar. Dan proses bernalar merupakan kinerja berfikir yang sistematik untuk memperoleh kesimpulan berupa pendapat atau gagasan. Kegiatan ini bisa bersifat ilmiah atau tidak ilmuah. Dari prosesnya, penalaran itu dapat dibedakan menjadi : a. Penalaran induktif Penalaran induktif adalah proses berfikir untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berlaku umum berdasarkan atas fakta – fakta yang bersifat khusus. Prosesnya disebut induksi. Penalaran induksi dapat berbentuk generalisasi, analogi, atau hubungan sebab – akibat. Generalisasi adalah proses berfikir berdasarkan hasil pengamatan atas sejumlah gejala dan fakta dengan sifat – sifat tertentu mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa itu. Analogi merupakan cara menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terhadap sejumlah gejala khusus yang bersamaan. Hubungan sebab – akibat ialah hubungan ketergantungn anatara gejala – gejala yang mengikuti pola sebab – akibat, akibat – sebab, dan akibat – akibat. b. Penalaran deduktif Penalaran deduktif adalah cara berfikir dengan berdasarkan suatu pernyataan dasar untuk menarik kesimpulan. Pernyataan tersebut merupakan premis, sedangkan kesimpulan merupakan implikasi pernyataan dasar tersebut. Artinya apa yang dikemukakan dalam kesimpulan sudah tersirat dalam premisnya. Jadi proses deduksi sebenarnya tidak menghasilakn suatu konsep baru, melainkan pernyataan / kesimpulan yang muncul sebagai konsistensi premis – premisnya. 2) Penalaran dalam karangan Dalam praktek, proses penalaran tidak dapat terpisahkan dengan proses pemikiran. Tulisan merupakan perwujudan hasil kinerja proses berfikir. Tulisan yang baik, sistematik, dan logis mencerminkan proses berfikir yang baik juga. Begitu juga sebaliknya, tulisan yang kacau mencerminkan proses dan kinerja berfikir yang kacau pula. Karena itu pelatihan ketereampilan menulis pada hakekatnya merupakan hal pembiasaan berfikir / bernalar secara tertib dalam bahasa yang tertib pula. Suatu karya tulis merupakan hasil proses berfikir yang mungkin merupakan hasil deduksi, induksi, atau gabungan di antara keduanya. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan umum berupa kaidaah, teori, peraturan atau pernyataan lainnya. Selanjutnya pernyataan tersebut dikembangkan dengan pernyataan – pernyataan atau rincian – rincian khusus. Sebaliknya, suatu karya tulis yang induktif dibuka dengan rincian – rincian khusus dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi. Gabungan antara keduanyan dimulai dengan pernyataan umum yang dikemukakan sebelumnya. Ssecara praktis proses penalaran deduktif dab induktif dikembangkan dalam bentuk paragraph. Yang perlu diperhatikan adalah arah atau alur penalaran dan cara perwujudan dalam karya tulis. Hal tersebut sangat berhubungan dengan urutan pengembangan dan isi karangan. Pola pengembangan gagasan dapat dilakukan dengan: a. Urutan kronologis Urutan kronologis ditandai dengan penggunaan kata – kata seperti dewasa ini, sekarng, bila, sebelum, sementara itu, selanjutnya, dalam pada itu, mula – mula. Bentuk tulisan ini biasanya dipergunakan untuk memaparkan sejarah proses, asal – usul dan biografi / riwayat hidup. b. Urutan spasial Urutan spasial digunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang. Biasanya dipakai dengan urutan waktu. Pola ini biasanya menggunakan kata – kata disini, disitu, di, pada, dibawah, diatas, ditengah, berhadapan, bertolak belakang, berseberangan dan lain – lain. c. Urutan alur penalaran Urutan penalaran menghasilkan paragraph deduktif dan induktif. d. Urutan kepentingan Urutan kepentingan dikembangkan berdasarkan skala prioritas gagasan yang dikemukakan dari yang paling penting menuju yang penting ke uang kurang penting. Sumber : Diposkan oleh ARIS TEGUH BUDIMANTO di 02:08 Label: silogisme kategorial

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar